Rabu, 20 Februari 2019

                                                                             SAVE ME
                                                                                                                                                       By: Nabila An


Tik.. Tok.. Tik.. Tok..
Tak terdengar bunyi lain lagi, hanya jam dinding saja.
Mataku bergerak menelusuri ruangan ini. Aku dimana?
Ruangan ini begitu gelap dan kosong.
Aku tak dapat melihat apapun, bahkan diriku sendiri.
Aku mencoba tenang, menetralkan seluruh pikiranku. Kemana semua cahaya disini? Apa tidak ada penerangan?
Semilir angin membuatku merasa kedinginan. Tapi darimana datangnya angin itu? Aku bahkan tak melihat jendela. Aneh.
Akhirnya aku memutuskan untuk bangkit dari dudukku. Bagaimana ini, semuanya benar-benar gelap.
Kulangkahkan kakiku dengan perlahan. Karena disaat seperti ini aku harus tenang. Aku harus menajamkan instingku. Untuk mencari jalan keluar.
"Halo, apa disini ada orang?" hening, tidak ada jawaban.
Aku merasa bulu kudukku sudah berdiri, jantungku berdegup dengan kencang. Ini sungguh menakutkan.
Prankk..
Sontak aku menoleh. Degup jantungku sudah tak terkendali.
"Si-siapa disana?" masih tidak ada jawaban.
Oh ya ampun, saat ini aku sangat ingin berteriak. Seseorang selamatkan aku.
Aku terdiam sejenak. Aku pikir aku harus berlari, tapi kemana?
Akhirnya aku putuskan untuk berlari. Aku tidak peduli jika didepan ada seseorang yang siap membunuhku.
Karena aku tak berani menengok ke belakang. Bisa saja seseorang dengan wajah menyeramkan sedang mengikutiku di belakang.
Apakah ruangan ini tak mempunyai sisi? Selebar apa ruangan ini?
Karena kemana pun aku berlari, yang kutemukan hanya kegelapan. Aku tersesat.
Saat ini aku sudah menangis. Dengan nafas terengah juga baju yang sudah basah oleh keringat. Tubuhku bergetar. Panggilan alam datang tanpa di undang. Aku ingin buang air kecil, bagaimana ini?
"Seseorang tolong aku" aku berteriak dalam tangis. Rasanya sesak, dan aku putus asa.
Tubuhku lemas, entah berapa kali aku jelajahi ruangan ini. Dan aku tak menemukan apapun. Apa seseorang ingin membunuhku di ruangan ini?
Tubuhku merosot, kakiku bergetar, yang hanya bisa kulakukan hanyalah menangis dengan memeluk lutut, namun di tengah tangisku, Aku mendengar derap kaki mendekat.
Aku terkejut, dan aku takut sangat takut. Aku ingin keluar dari tempat ini. Sekali lagi, seseorang tolong selamatkan aku.
Saat langkah itu semakin mendekat. Aku sudah untuk siap mati. Tapi suara langkah itu semakin memudar di pendengaranku. Karena saat itu juga aku kehilangan kesadaran. 
...
Setelah lama tak sadarkan diri, akhirnya aku membuka mata.
Ruang tanpa cahaya itu kini menjadi terang. Sekarang aku bisa melihat dengan jelas tempat ini.
Kini banyak cahaya yang tertangkap oleh indraku.
Aku mengumpulkan kesadaranku, dan tunggu ada dimanakah aku sekarang?
Ahh, aku tau ini dimana. Ini kamarku. Dan di sebelahku ada ibu.
"Ibu" Spontan aku beringsut dalam pelukannya yang hangat. Aku menangis dan tak henti menyebut namanya. Ibu kau memang malaikatku.
Namun bukan belaian yang ku dapat, ibu malah memarahiku.
"Astaghfirullah, lain geura hudang budak teh! kasiangan sakola!!"
Aku terdiam. Apa apaan ini.
"Tingali geus jam satengah Tujuh. Kumaha mun kasiangan!!"
Aku tersentak, dengan kesadaran yang masih setengahnya kumiliki dan wajahku yang di penuhi air mata yang mengering juga tubuh yang sudah basah akibat keringat. Akhirnya aku bangkit dari posisiku.
"Subhanallah, ibu naha teu tatadi ngabangunkeun teh"
Tanpa menunggu jawaban, aku berlari menuju kamar mandi. Samar samar dari belakang terdengar ibu yang memarahiku lagi. Namun ku abaikan saja.
Dan di tempat yang penuh imajinasi ini, aku sadar. Bahwa semua yang terjadi hanyalah mimpi.


19.02.19
Edit: Siti Cahyati